Seri Diskusi Ilmiah ke-4 Restorasi Ekosistem

RE ke-4

Restorasi Ekosistem dan Perubahan Iklim : Adaptasi dan Mitigasi

(Bogor, 22/5) Restorasi Ekosistem (RE) diyakini dapat berkontribusi besar terhadap upaya mitigasi di sektor kehutanan, sekaligus dapat menjadi pendekatan baru dalam membangun adaptasi berbasis ekosistem. Untuk mendapatkan perspektif lebih luas mengenai adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan kaitannya dengan RE maka Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Burung Indonesia menyelenggarakan Seri diskusi ilmiah Restorasi Ekosistem dan Perubahan Iklim: Adaptasi dan Mitigasi dengan para pakar dan praktisi.

Seri diskusi ini merupakan kali keempat yang dilaksanakan atas kerjasama IPB dengan Burung Indonesia. Pada kesempatan kali ini, Sekretaris Institut IPB, Dr. Ibnul Qayyim hadir untuk memberikan sambutan/ pengantar diskusi sekaligus secara resmi membuka acara. Dalam sambutannya beliau memaparkan bahwa isu lingkungan juga telah menjadi salah satu topik yang menjadi concern IPB selama ini . Sehingga diharapkan melalui diskusi ini IPB dapat

Bertempat di Ruang sidang Rektor, acara ini menghadirkan para pembicara yang ahli di bidangnya, diantaranya Dr. Agus Purnomo (staf Ahli Kepresidenan bidang Perubahan Iklim), Prof. Dr. Daniel Murdiyarso (Dept. Geomet – FMIPA/ Principal Scientist CIFOR), Ir. Retno Maryani, MSc (Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan – PUSPIJAK), dan Dr. Dodik Ridho Nurrochmat (Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian) serta bertindak sebagai moderator, Prof. Dr. Damayanti Buchori.

Dalam pemaparannya Dr. Agus Purwanto menyampaikan bahwa RE diyakini selain dapat mempertahankan, menyelamatkan biodiversity dan meningkatkan taraf hidup masyarakat tetapi juga mengurangi emisi dan menyerap karbon. RE diindikasikan dapat menyerap 22,94 juta tCO2e. Potensi penyerapan karbon 1.330 juta t CO2e – Perpres 61/2011. RE dimasa depan diprioritaskan pada lahan-lahan gambut karena disanalah terdapat sumber emisi yang sangat besar jika dieksploitasi. Prof. Dr. Daniel Murdiyarso membenarkan pentingnya lahan gambut sebagai sumber terbesar emisi karbon. Namun, beliau mengkritisi kurangnya perhatian pemerintah, swasta, dan masyarakat terhadap adaptasi, sehingga strategi adaptasi dan mitigasi harus diintegrasikan untuk meng-adress climate change secara integratif. Selanjutnya, Ir. Retno Maryani, MSc menjelaskan bahwa dalam rangka perubahan iklim dan REDD+, Litbang telah berkontribusi dalam pembuatan stranas SRAP, REL, MRV, membuat safeguard, sumber pendanaan. Namun diakui masih banyak terdapat gap seperti: regulasi, data, instumen dan metodologi. Kemudian, Dr. Dodik Ridho Noorochmat menyampaikan mengenai keterkaitan antara Green Growth dan Green Economy. Green growth berisi efesiensi, meminimalisasi polusi, resilient. Sedangkan Green economi harus melihat unsur socio economy, biodiversity, hidrologi dan Iklim.

Acara ini dihadiri oleh dosen, praktisi, pemegang IUPHHK RE, pengambil kebijakan di Kementerian Kehutanan, perwakilan mahasiswa IPB (forum mahasiswa Pasca Sarjana IPB) dan staf Burung Indonesia. Selanjutnya, hasil penjabaran diskusi ini akan diturunkan dalam bentuk prosiding, info brief dan publik lain.